Liwa Roya; Representasi Budaya Visual dalam Perubahan Global

flippermagz March 13, 2013 0

“Saya menyampaikan materi ini agar generasi muslim mengingat sejarahnya. Tidak kagok pada bendera mereka sendiri! Bendera liwa dan roya bukanlah budaya visual baru, akan tetapi sudah menjadi sesuatu yang ma’lum karena  diwariskan secara turun temurun semenjak zaman Rasulullah”, demikian ungkap pembicara Seminar Budaya Visual dalam Perubahan Global, Deni Junaedi,S.Sn,MA kepada penulis.

Bendera dengan konfigurasi gambar kalimat syahadat berwarna putih (liwa) dan hitam (roya), inilah yang menjadi objek kajian pembicara dalam thesis pascasarjana yang mengantarkannya memperoleh predikat cumlaude di UGM tahun 2012 lalu. Mengadopsi dari thesis ini Deni Junaedi mengelaborasi makalah berjudul “BENDERA KHILAFAH; Representasi Budaya Visual dalam Perubahan Global”. Makalah ini disampaikan di seminar yang diadakan Senin, 11 Maret 2013 lalu di Gedung Sasana Ajiyasa Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta.

Kiri. Syahadat pada bendera pemerintahan Islam di Sudan yang ditemukan tentara Inggris tahun 1885 (Crampton, 1989: 21)x
Kanan. Syahadat di bendera pasukan Aceh saat melawan Belanda (Alfian, 1997, 172)

Dalam lintasan sejarah, bendera ini digunakan dalam peperangan di zaman Rasul dan para sahabat. Begitu pula kaum muslimin di berbagai zaman menggunakannya sebagai simbol kehormatan mereka. Dalam makalahnya, Deni Junaedi melampirkan gambar-gambar seperti bendera pasukan Aceh, bendera Kesultanan Cirebon, bendera prajurit Baghdad tahun 1237, bendera Kanjeng Kyai Tunggul Wulung Kesultanan Yogyakarta, termasuk bendera Muhammadiyah. Semuanya mengenakan tulisan laa ilaaha illallah, muhammad rasulullah.

Dengan latar belakang prediksi masa depan yang berada di tangan kaum muslimin, tanda-tanda keruntuhan peradaban Barat, serta revolusi Islam Arab, khususnya Suriah, yang terus bergulir, dan adanya kemungkinan-kemungkinan Suriah menjadi A New Khilafah, Deni mengajukan bendera liwa dan roya ini sebagai objek budaya visual yang sedang mengemuka dalam perubahan di tingkat global.

Bendera liwa dan roya tidak hanya berkibar di Suriah, tetapi juga di seluruh dunia. “Salah satu kelompok yang mengibarkannya secara masif di berbagai kota dunia adalah Hizbut Tahrir. Meski demikian ia juga digunakan oleh berbagai pergerakan Islam, seperti Al-Qoida, Harakah Ash-Shabab al-Mujahidin di Somalia, pejuang muslim Chechnya, Majelis Mujahidin Indonesia, dan Forum Umat Islam di Indonesia”, terang Deni dalam makalahnya.

Perubahan global, menurut Deni, tidak hanya diprediksi oleh para peneliti tetapi telah dikabarkan dalam hadits nabi berabad lalu. Misalnya Hadits Riwayat Ahmad tentang Khilafah di atas metode kenabian. Juga hadits tentang Imam Mahdi, dan hadits terkait tanda-tanda kedatangannya, yaitu kemunculan laki-laki dari timur dengan panji-panji hitam kecil (yakni roya), yang bergerak ke penguasa Syam dan memberikan ketaatan pada al-Mahdi.

Tentu saja tidak semua orang, misalnya orang di luar Islam, percaya pada pengkabaran hadits; ini sebagaimana orang Islam yang tidak diperbolehkan membangun kepercayaan berdasarkan ramalan suku Maya bahwa tahun 2012 menandai awal kelahiran zaman baru. Akan tetapi, mengacuhkan keselarasan antara prediksi ilmiah, fakta sosial maupun politik, fenomena alam, dengan pengkabaran hadits adalah tergesa-gesa.

Liwa dan roya kini telah menjadi simbol bagi perubahan dan kebangkitan Islam yang dinanti-nanti. Jika ini terjadi, Khilafah yang kan tegak ini akan menggunakan bendera berkalimat tauhid, menggantikan seluruh bendera nasionalisme, kembali seperti yang diwariskan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. [Ridwan]

Footnote
Crampton, William. Flag. London: A Dorling Kindersley, 1989
Alfian, Teuku Ibrahim, ed., et al. Perang Kolonial Belanda di Aceh The Dutch Colonial War in Aceh. Banda Aceh: Pusat Informasi dan Dokumentasi Aceh, edisi ke-3, 1997.

 

PENULIS

Ridwan Taufik Kurniawan.
Mahasiswa ISI Yogyakarta, Saat ini aktif di LDK KMI ISI Yogyakarta sebagai Dewan Syuro tahun pengurusan 2012-2013.

 

semua isi iklan di atas bukan tanggung jawab kami